SMS Motivasi

oase 0 Comment

Seperti yang tertulis di ,http://inspirasimustika.blogspot.com/2011/11/sms-motivasi_14.html, semoga bermanfaat...
 
Maka syukur semestinya terucap jika saya berjumpa dengan beliau. Selalu saja ada hikmah terekam dalam setiap cakap. Seperti siang ini. Sekedar mendengar celotehan tentang tempat kerja baru saya, semua ini berawal. Terlalu semangat saya berceloteh hingga beliau yang tadinya berdiri akhirnya duduk di depan saya. Hehehe...
Nada dering sms beliau menyela pembicaraan kami. Senyum terukir di bibir beliau setelah membaca sms tadi. "Jadikanlah hari ini yang terbaik, rugi jika sudah meninggalkan keluarga sampai sore tapi hasilnya bukanlah yang terbaik...”, kata beliau. “Saya selalu sms ke suami. Sms motivasi...”, “kapan Bu kasihnya? Tadi pagi?” tanya saya. “tidak, kalau pagi nanti lupa beliau. Sms-nya siang gini, biar inget...kalau beliau sms-nya sms tausiyah,” kata beliau sambil tertawa simpul. “Gimana Bu bunyi smsnya, saya tulis disini ya, “ ijin saya. “Manggilnya gimana? Mas gitu ya? “tanya saya sambil senyum. Saya ingat cara beliau memanggil suaminya. “Iya...” sahut beliau. Saya acungkan kedua jempol saya pada beliau sambil berkata, “hebat Bu, jarang lho yang sms begitu, bisa jadi smsnya pesan minta dibelikan sesuatu yang membebani suami kerja,”. “Iya...diakhir sms saya selipi do’a, semoga Allah meridhoi kita, beliau itu rajin tidak seperti saya",  jelas beliau.
Dan inilah sms beliau,
 “ Mas... Jadikanlah hari ini sebagai amalan terbaik, rugi jika sudah meninggalkan keluarga sampai sore tapi hasilnya bukanlah yang terbaik, semoga Allah meridhoi usaha kita".
Romantis ya...[ups, jadi pingin sms...saya kan juga suka banget sms]. Dulu...sore hari, “Dik, minta dibelikan apa?” sms suami beliau. “Tidak usah beli apa-apa, Mas pulang dengan selamat saja sudah Alhamdulillah...”

Suami istri selayaknya pakaian, begitu Al Qur’an mengkiaskan. Suami pakaian istri demikian pula sebaliknya. Pakaian tuk menutupi aurat [sesuai syariat tentunya], menjadikan indah pandangan mata. Indah dalam pandangan mata pasangan juga sedap dipandang orang lain. Saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Seperti halnya suami-istri dalam tulisan ini. Semoga Allah memudahkan saya dalam mengambil setiap hikmah dari orang-orang di sekitar saya. Aamiiin

(read more ...)



Hijrah Yuk...

Belajar dari Ustadz 0 Comment


Bismillah ...


Tulisan ini terinspirasi dari tabligh akbar, 19-11-2011 bersama Teh Ninih. Temanya menyambut tahun baru hijrah. Beliau mengawali dengan membaca ayat ini...


“(Mereka berdo’a), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ya Tuhan kami, Engkau-lah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. [Qs Ali ‘Imran : 8-9]


Esok, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi, 20 menit ke depan kita pun tidak tahu apa yang akan terjadi, bahkan dua detik ke depan kita tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi. Semua Allah yang mengatur. Hanya kepada-Nya lah kita mesti berharap. Dan atas karunia juga rahmat-Nya lah tulisan ini terhaturkan.


Hidup layaknya garis lurus, ada pangkal, ada ujung. Pangkalnya lahir, ujungnya kematian. Kita tak kan tahu kapan kita akan bertemu dengan ujung garis hidup kita. Yang terpenting adalah dari pangkal hingga ujung berisi amal semata. Apa pun amal yang dilakukan, semua tergantung dari niatnya. “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim).


Cukuplah Allah saja yang dituju dari setiap amal yang kita lakukan. Kepada Allah dan Rosul-Nya kita berhijrah. Hijrah secara maknawi diartikan sebagai perpindahan dari tempat satu ke tempat yang lain. Dengan harapan memperoleh yang lebih baik.


 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [Qs. Al Hasyr : 18]. Ujung garis hidup kita harus dalam keadaan siap. Dengan taqwa, kesiapan itu direncanakan. Hijrah dapat digunakan sebagai salah satu upaya merencanakan hari esok. Hijrah harus memberikan perubahan. Jika tidak perubahan, belum hijrah namanya. Misal hafalan dari dulu hingga sekarang masih 4 surat pendek dalam Al Qur’an. Perubahan untuk lebih baik di hari esok menuju ujung garis kehidupan. Orang yang paling cerdas, dialah yang paling banyak mengingat mati. Sehingga setiap perubahan diusahakan menjadi bekal untuk kehidupan sesudah mati.


Adapun macam hijrah dapat dibaca lebih lanjut di http://inspirasimustika.blogspot.com/2011/11/macam-macam-hijrah.html

(read more ...)

Gusti Ora Sare

syair hati 0 Comment

Keno opo ati digawe kuciwo
wong nyatane rizki tan keno di nyono
lha njur ngopo urip di gawe nelongso
wong nasibe wis di nulis sing kuwoso

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

Mengapa hati dibuat kecewa
bila kau tau dunia sementara
mengapa jiwa selalu merana
bila kau hidup dalam naunganNya

Allah tidak tidur
Allah tidak tidur
Allah Maha tau segala-galanya

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

didunia hidup hanya sementara
carilah dunia cukup yang sekedarnya saja
di akhirat hidup untuk selamanya
bersiaplah dengan bekal iman dan taqwa

didunia hidup hanya sementara
carilah dunia cukup yang sekedarnya saja
di akhirat hidup untuk selamanya
bersiaplah dengan bekal iman dan taqwa

Gusti ora sare
Gusti ora sare
Gusti Allah pirso karo awake dewe

 

Album : Gusti Ora Sare
Munsyid : Suara Syuhada

 

(read more ...)

Ahlan Wa Sahlan Ya...Ramadhan

Belajar dari Ustadz 0 Comment

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan...ditulis oleh beliau Ustadz Syatori AR, Drs. Pengasuh Pondok pesantren mahasiswi Darush Shalihat Yogyakarta. Sebagai bekal menyambut Ramadhan 1432 H. Teruntuk sahabat-sahabatku yang merindu...

Semoga bermanfaat...

 

Ramadhan, harum baumu memutihkan kehidupan. Cerah wajahmu memerahkan nyali perjuangan. Rekah senyummu menguningkan padi ketundukkan. Lembut sapamu menghijaukan padang ketenangan...

 

Subhanallah, Tamu Agung itu...

Ramadahn, tamu agung yang diruindu itu sebentar lagi akan tiba mengunjungi hari-hari kita selama sebulan penuh.

Ya Allah,berkahilah Ramadhan kami kali ini, jadikan ia taman surga, tempat kami membebaskan diri dari segala jeratan belenggu hawa nafsu. Jadikan ia mentari selalu menerangi jalan hidup kami menuju surga-Mu...

Apa yang sudah kita siapkan?

Siapa pun tamunya, pasti membawa berkah, lebih-lebih tamu Ramadhan. Tapi siapkah kita menerima berkah Allah lewat Ramadhan ini? semua bergantung pada sikap terhadapnya, baik sebelum, ketika dan sesudah ia datang.

Adab menerima tamu

Islam menetapkan bahwa menerima tamu itu ada adabnya, yaitu ;

  1. Menyiapkan rumah kita agar tak terkesan sebagai rumah hantu.
  2. Membersihkan rumah dari segala kotoran yang mengganggu
  3. Menyiapkan hidangan terlezat selera “daqu"
  4. Menyambut dengan senyum menyentuh qalbu
  5. Menempatkan tamu di tempat yang nyaman

Rumah Hantu, Hati Hantu

Siapa pun tidak akan mau bertamu di rumah hantu, yaitu rumah yang pantasnya dihuni oleh makhluk hantu (pasti ngeri dan serem!!)

Hati hantu adalah hati yang di dalamnya tidak ditemukan sifat-sifat terpuji yang dibenci oleh para hantu bernama syetan, seperti : qana’ah, tawakal, khauf, roja’, ikhlas, rahmah dst. Justru yang bercokol dihati hantu adalah sifat-sifat tercela yang disuka hantu syetan, seperti ; syirik, nifaq, riya’, sum’ah, sombong, dendam, kiki dll.

Ramadhan tidak akan mau mengunjungi siapapun yang masih berhati hantu seperti ini. karena itu, inilah saatnya kita menghilangkan bahkan mengikis habis semua “hantu” yang masih bergentanyangan memenuhi jagat hati kita, dengan kita hunuskan pedang jihadun nafsi (brejuang melawan nafsu) dan kita babatkan ke nafsu yang telah menghantukan hati kita, dengan cara :

  1. Senyumlah kepada orang tidak kita suka
  2. Berikanlah segala yang kita suka (Alhamdulillah...)
  3. Beramallah dengan kebaikan yang nafsu kita sangat tidak suka (Laa ilaaha illallaah...)
  4. Balaslah keburukan orang dengan kebaikan yang paling ia suka (Allahu Akbar...)

Rumah kotor, Hati Kotor

Siapapun akan enggan bertamu di rumah yang kotor dan bau. Kalau pun terpaksa bertamu, hanya bisa bertahan beberapa menit.

Ramadhan adalah tamu yang sangat bersih dan suka dengan yang bersih. Maka ia sangat suka mengunjungi hamba-hamba yang berhati bersih, dan enggan serta tidak betah mengunjungi orang-orang yang berhati kotor dan bau. Sehingga orang-orang yang berhati kotor hanya mersakan kehadiran Ramadhan itu hanya dalam beberapa hari saja. Selebihnya tidak terasa lagi kehadirannya, adanya sama seperti tiadanya (Wal ‘iyadzu billah)

Hidangan Lezat, Hati Nikmat

Setiap tamu pasti senang disuguh hidangan lezat nan nikmat. Begitu pulalah tamu Ramadhan, yang sebentar lagi datang mengunjungi kita, sangat suka dengan hidangan-hidangan lezat lagi nikmat. Apakah hidangan itu? Bukan makanan. Bukan pula minuman, melainkan amal ibadah dan amal shalih yang telah kita rasakan nikmat-lezatnya sampai ke hati kita.

Amal ibadah dan amal shalih yang belum dirasakan nikmat lezatnya sampai ke hati, akan menjdai suguhan yang tidak enak bagi sang tamu Ramadhan. Akibatnya, diapun tida betah membersamai kita, dan kita pun damal 2 atau 3 hari kemudian merasakan letih, jenuh, dan bosa dengan mala-amal Ramadhan. Ramadhan pun “pergi” meninggalkan kita tanpa pesan, tanpa kesan.

Bagaimana caranya agar kita bisa menikmati lezati segala amal baik kita? Berikut langkah-langkahnya :

  1. Membeningkan hati sebening-beningnya
  2. Mengikhlaskan semua amal baik kita semata-mata karena dan untuk Allah
  3. Berjuang untuk tidak pernah henti mengamalkan segala kebaikan.

Senyum Ramadhan, bahagia Kita

Tamu mana yang tak senang disambut snyum tulus menawan. Ramadhan pun akan bahagia, saat dari “Jauh” ia melihat kita tersenyum bahagia menyambut.

Senyum kita adalah bahagia kita yang tak terperi, berseri bagai cerianya pagi hari menyambut hadirnya mentari, atau bagai sang putri yang mengimpikan menjadi bidadari.

Senyum kita kepada Ramadhan adalah buncahan rindu yang mensyahdu dalam suratan doa-doa yang tiada henti agar kita segera dipertemukan kembali dengan Ramadhan.

Senyum kita kepada Ramadhan adalah serpihan cinta yang menyatu dalam siratan khusyu’ khudu’nya hati kita dalam dekpan ta’abbud kepada-Nya.

Akhirnya, semoga kelak kita bisa menempatkan Ramadhan di tempat yang paling disukainya, yaitu hati yang telah berselimutkan iman dan ihtisab kepada Allah Ta’ala.

Iman akan membuat amal-amal Ramadhan kita lakukan semata-mata karena cinta kepada Allah Ta’ala dan rindu untuk berjumpa dengan-Nya di taman surga.

Ihtisab akan membuat semua amal baik kita di bulan Ramadhan ini kita lakukan semata-mata karena Allah, hanya ingin dibalas Allah Ta’ala. Dan cukuplah hanya Allah sebaik-baik yang memberi balasan.

Rasulullah SAW bersabda :”barangsiapa yang berpuasa(riwayat lain menyebut beribadah) di bulan Ramadhan, semata-mata karena iman dan ihtisab kepada Allah, maka akan diampunilah dosa-dosanya di masa lalu.” (HR. Muslim)

Semoga Ramadhan kita kali ini menjadi Ramadhan yang terbaik dalam hidup kita. Karena bisa jadi inilah Ramadhan kita yang terakhir...

Ya Allah akhirilah hidup kami husnul khotimah. Dan jadikanlah surga sebaik-baik tempat pertemuan kami dengan semua orang yang kami cintai, di alam akhirat nanti.

 

(read more ...)

Istighfar Penuh Kesyukuran I

Dari Rosululloh 0 Comment

Tak biasa aku sendiri begini. Membisu, berkawan tumpukkan buku-buku di meja kantor, juga deretan buku kawan-kawan penghias meja mereka. Terakhir kawan kantor pamitan dengan mata tak tega meninggalku, pukul 13.30 WIB. Hmmm...hingga 15.00 WIB bakalan sendirian. Suara molen, pekerja bangunan yang menambah bangunan lantai 2 menderu mengalahkan suara streaming-ku. Aku coba menambah volume streaming. Hasil pertarungan, suara molen seakan masuk lewat telinga kiri, suara streaming seakan masuk telinga kanan. Aroma bawang putih dari makan siangku menyengat. Lotek, campuran berbagai sayuran dengan bumbu kacang tanah, cabe, bawang putih, kencur, daun jeruk, terasi, air asam, ditambah ketupat dan krupuk. Wuih...kadang diri ini sering tergoda meski menu ini tak satu kali pun aku makan dalam waktu satu bulan. Sebenarnya aku tadi hanya membeli setengah porsi, tapi masya Allah, setengah saja harus aku makan dengan jeda. Aku harus memberi ruang gerak isi lambung ini. Padahal lotek jika tidak sekali habis rasanya akan jadi aneh. Hmmm...mau gimana lagi. Meski tadi pagi sarapan bubur seharga Rp. 1500,- saja, plus sebutir telur rebus ternyata tak mengubah jumlah makanku.
Aku jadi ingat, ahad lalu.
“Assalaamu’alaikum!!!”  salam itu mengusik kenyamanan kami melalui lubang angin jendela kamar. Sepertinya aku mengenal suara itu. Pukul 21. 14 WIB. Lampu ruang tamu rumah sudah dimatikan. Seluruh penghuni rumah kami sibuk di kamar masing-masing. “Mau ngapain ya...” celetuk si bungsu. “Nganter nasi kali” tebakku. Kami berdua tak beranjak meski sudah menjawab salam. Adikku yang berada di kamar sebelah terdengar membukakan pintu.  Sayup-sayup kami mendengar percakapan di luar. “Astaghfirrullahal’adziiim...” guman si bungsu. Beberapa detik berikutnya tawa kami pecah. “Wong di kasih makanan orang kok malah istighfar yo Mbak”, katanya. “Sudah jam segini, lagian makanan kita masih sisa banyak kan Mbak,” lanjut dia. “ Kita simpan untuk besuk pagi...” sahutku. Benar. Sepupu kami mengirim makanan. Kami tidak tahu kalau mereka ada acara.
Dua hari dapur kami tidak mengepul. Hari sebelumnya kami mendapat kiriman makanan dari kakak ipar. Malamnya kami membawa pulang lagi makanan karena mengikuti acara di rumahnya. Dari pada mubazir, akhirnya kami simpan saja untuk esuk paginya. Alhamdulillah tidak perlu masak. Cukup untuk makan pagi dan makan siang. Belum juga kami makan siang, eeee...kami dapat kiriman makan siang plus kotak syukuran dari saudara yang aqiqah-an. Alhamdulillah dapat makanan segar. Ba’da ashar kami ke rumah mereka berniat membantu mengantar makanan ke tetangga. Dan tentu saja di sana kami disuruh makan. Aku sedang ada jadual puasa saat itu, maka aku katakan saja, maaf aku puasa. Kedua adikku meski belum lapar, akhirnya makan untuk menghormati mereka. Menjelang maghrib kami ijin pulang, kedua adikku pulang lebih dulu. Keberuntungan, disebabkan aku tidak makan di sana maka jatah makanku dibawain pulang, “Untuk buka puasa di rumah,” kata saudaraku khawatir makanan di rumah habis. Aku sudah berusaha meyakinkan mereka bahwa di rumah masih banyak. Tak mempan. Akhirnya aku dibawain lauk tanpa nasi. Alhamdulillah.
“Mbak, dapet syukuran aqiqah dari Mbak Bekti,” kata adikku menyambut kedatanganku. “Alhamdulillah...padahal aku juga dibawain makanan Bu Tukinah lho, banyak banget...” sahutku. Bekti, salah satu sahabat baikku. Rumahnya sekitar 6 km dari rumahku. Sering sekali dia mengirim makanan ke tempatku. Alhamdulillah ya Allah. kami benar-benar berlimpah rezeki, dan tidak juga berbagi ke tetangga dekat karena kami tahu bahwa mereka juga mendapat rezeki melalui saudara kami yang syukuran. Akhirnya sisa makan malam kami, kami simpan untuk esuk hari hingga kami mendapat tambahan rezeki lagi.
 
 
 

[to be continued]

http://inspirasimustika.blogspot.com/2011/04/astaghfirullah.html

(read more ...)